Al-Dakhil Pada Hadis Mawdhu’ Seputar Asbàbun Nuzùl (Suatu Penelusuran Terhadap Asbàbun-Nuzùl Karya al-Wahidi)

Penulis

  • Khairul Bahri Nasution STAIN Mandailing Natal

DOI:

https://doi.org/10.56874/alkauniyah.v5i1.1770

Kata Kunci:

Al-Dakhil, Hadis Mawdhu’, Asbàbun Nuzùl, al-Wahidi

Abstrak

Pengetahuan seputar asbàbun-nuzùl di antara yang paling penting untuk diketahui, sebab penafsiran dan pengungkapan maksud dari suatu ayat tidak akan dapat dilakukan tanpa mengetahui kronologi yang menjadi penyebab diturunkannya ayat tersebut. Para ulama menyatakan bahwa cara terbaik untuk mengetahui asbàbun-nuzùl adalah melalui periwayata yang sahih. Namun, pada kenyataan banyak terdapat pada literatur seputar asbàbun-nuzùl baik literatur material-substansial yang memuat hadis mawdhu’ yang hal ini masuk pada klasifikasi al-dakhîl di bidang ilmu tafsir. Di antara literature seputar asbàbun-nuzùl yang kerap dirujuk adalah karya Abu Hasan ‘Ali al-Wahidi an-Naisabùriy. Ia dalam kitabnya ini telah menegaskan sendiri pendapatnya bahwa“Tidak boleh kita mengatakan tentang sebab-sebab turunnya ayat Al-Qur’an melainkan dengan riwayat dan mendengar dari orang-orang yang menyaksikan ayat itu diturunkan, dan juga mengetahui sebab-sebabnya, serta membahas tentang pengertiannya dan bersungguh-sungguh dalam mencarikan yang demikian itu”. Namun, pendapatnya ini tidak didukung dengan validitas hadisnya sehingga pada beberapa asbàbun-nuzùl yang diriwayatkan terdapat yang mawdhu’, sementara sebenarnya ada riwayat yang sahih terkait itu, seperti pada Q.S. al-Ahzab : 14 dan 97, Q.S. al-Ahzab : 23, Q.S. al-Masad. Al-Wahidi didapati banyak meriwayatkan periwayatan Ibn ‘Abbas dari jalur al-Kalbi dari Abi Salih, yang merupakan jalur yang paling buruk sebab mereka tertuduh berdusta.

Diterbitkan

2024-06-17

Artikel Serupa

1-10 dari 69

Anda juga bisa Mulai pencarian similarity tingkat lanjut untuk artikel ini.

Artikel paling banyak dibaca berdasarkan penulis yang sama