Naskah ini versi lama yang diterbitkan pada 2025-09-30. Baca versi terbaru.

Batas Dua Laut dalam Al-Qur’an: Studi Tafsir ‘Ilmi dan Ilmu Oseanografi

Penulis

  • Damar khansa UIN SALATIGA
  • Amalia putri UIN SALATIGA

DOI:

https://doi.org/10.56874/alkauniyah.v6i1.2154

Kata Kunci:

Batas dua laut, Al-Qur'an, Tafsir ilmiah, Oseanografi, Barzakh

Abstrak

Penelitian ini mengkaji fenomena batas dua laut sebagaimana diuraikan dalam Al-Qur'an, khususnya pada Surah Ar-Rahman ayat 19-20 dan Surah Al-Furqan ayat 53, melalui pendekatan tafsir ilmiah dan ilmu oseanografi. Latar belakang studi ini adalah keunikan fenomena alam tersebut, di mana dua badan air dengan karakteristik berbeda tidak bercampur, menunjukkan tanda kebesaran Allah dan relevansi ilmiah Al-Qur'an. Tujuan penelitian ini adalah memahami fenomena tersebut secara mendalam melalui kombinasi analisis tafsir dan data oseanografi. Penelitian dilakukan secara kualitatif dengan metode studi pustaka, menggunakan literatur Al-Qur'an, tafsir klasik dan modern, serta kajian oseanografi kontemporer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fenomena ini terjadi karena perbedaan sifat fisik seperti salinitas, suhu, dan densitas yang menciptakan lapisan pembatas alami atau "barzakh." Contoh nyata ditemukan di Selat Gibraltar, di mana Laut Mediterania dan Samudera Atlantik bertemu namun tidak bercampur. Temuan ini tidak hanya memperkuat mukjizat ilmiah Al-Qur'an, tetapi juga menegaskan keterkaitan harmonis antara agama dan sains. Adapun hasil penelitian ini menunjukkan bahwa, fenomena batas dua laut memberikan pelajaran tentang keseimbangan alam dan relevansinya dalam kehidupan sosial, yaitu pentingnya toleransi dan keberagaman dalam masyarakat.

Diterbitkan

2025-06-29 — Diperbaharui pada 2025-09-30

Versi

Artikel Serupa

1-10 dari 71

Anda juga bisa Mulai pencarian similarity tingkat lanjut untuk artikel ini.